FLORA

  1. TAMAN NASIONAL BERBAK

Berdasarkan survei yang dilakukan (Dransfield 1974;FrankenDanroos 1981; SilviusEt Al 1984; Giesen 1991) jumlahvegetasi yang sudah tercatat sebanyak 261 spesies dari 73 famili, yang terdiri dari 67% berupa jenis pohon dan semak, 17% jenis liana dan 8% jenis herba dan epifit. Diperkirakan 187 jenis tumbuhan dikategorikan Appendiks I CITES, diantaranya 10 jenis dari keluarga Myrtaceae, 9 jenis keluarga Arecaceae dan 8 jenis dari keluarga Moraceae. Di kawasan Taman Nasional Berbak ditemukan 23 jenis Palem (Dransfield 1974; Giesen 1991) dan sepuluh jenis pandan dengan jumlah yang sengat tinggi. Kawasan ini menjadi daerah rawa gambut yang paling kaya spesies Palem di dunia (Wibowo dan Suyatno 1997).

Dari segi ekonomi jenis palem sudah lama berguna sebagai bahan bangunan seperti rotan (Calamussp dan Korthalsiasp), Nibung (Oncospermatigillarium) sebagai tiang bangunan rumah ditanah berlumpur,(daun Nipah) untuk atap rumah, kelapa sebagai sumber makanan, minyak sayur, gula, dan alkohol. Dan kegunaan untuk obat-obatan seperti sumsum batang nipah (Nypafruticans), untuk mencegah malaria Selain beberapa jenis palem yang mempunyai berbagai kegunaan, didalam kawasan Taman Nasional Berbak juga banyak ditemukan tanaman berkayu, jenis-jenis selain palem yang bernilai ekonomi

Perbandingan vegetasi pada 3 sungai yang disurvei oleh Giesen ( 1991 ) (Air Hitam Dalam, Air Hitam Laut dan Simpang kanan ) memperlihatkan bahwa vegetasi pada sungai Air Hitam Dalam mempunyai perbedaan yang menyolok dari kedua sungai lainnya, mungkin disebabkan oleh pengaruh aliran air dari Sungai Batanghari/Berbak yang kembali masuk kedalam aliran Sungai Air Hitam Dalam setiap tahun.

Jenis-jenis vegetasi yang menarik dari hutan tepi sungai di kawasan Taman Nasional Berbak jenis Nypa fruticans dan Pandanus tectonus. Pada aliran sungai yang dipengaruhi oleh air payau jenis Nypa fruticans banyak ditemukan tumbuh berkelompok. Makin kearah dalam ( hulu ) sungai kelompok jenis ini akan berganti dengan jenis Pandanus tectorius yang dipengaruhi oleh air tawar. Kedua jenis ini jarang bahkan tidak pernah terdapat secara bersama-sama. Pergantian dari air payau ke air tawar dalam sungai ditandai oleh perubahan yang mendadak oleh keberadaan nipah ( Nypa fruticans ) yang dengan tiba-tiba diganti oleh jenis pandan ( Pandanus heliocopus ).

Menuju arah ke hulu sungai Air Hitam Laut dekat Sungai Simpang kubu terdapat jenis bakung (Susum anthelminticum).  Jenis ini tumbuh mengapung sangat rapat menutupi sungai, sehingga sulit dilewati. Jenis ini juga terdapat melimpah di aliran Sungai Benuh dekat Sungai Simpang Kanan.

Sejauh ini sebagian besar dari kawasan Taman Nasional Berbak saat ini merupakan hutan yang masih primer. Beberapa bagian sudah tidak primer lagi, terutama pada bagian barat laut, merupakan hutan sekunder dengan penutupan tajuk kemungkinan kembali menjadi hutan primer dalam beberapa dekade. Hutan sekunder ini masih menyediakan habitat yang baik bagi satwa liar dan mempunyai nilai yang tinggi untuk dikembangkan menjadi areal wisata.  Struktur vertikal hutan rawa gambut di Bentang Alam Ekosistem Berbak terbentuk dari pohon dengan ketinggian rata-rata dapat mencapai 35 – 45 meter dengan pohon penembus kanopi (emergenttrees)dapat mencapai 50 sampai 60 meter.

 

  1. TAMAN NASIONAL SEMBILANG

Taman Nasional Sembilang memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi dengan kombinasi ekosistem lahan basah yang lengkap yaitu meliputi ekosistem mangrove sebanyak 44%, rawa belakang 42%, hutan rawa (air tawar dan gambut) 9%, dataran lumpur 2,5%, tambak 1,5% dan pantai pasir 1%.

Ekosistem Mangrove TN Sembilang

Mangrove adalah habitat terluas di TN Sembilang (± 83,447.23 Ha pada tahun 2009). Berdasarkan kajian Tim Unsri (2009) tutupan mangrove rapat/tebal seluas 44,206.53 Ha (53%), tutupan mangrove sedang 28,545.16 (34,20%), dan tutupan mangrove yang jarang 10,695.10 Ha (12,80%). Mangrove TN Sembilang teridentifikasi sebanyak 17 spesies tumbuhan mangrove sejati dan 6 spesies mangrove ikutan. Dalam perkembangannya, Balai TN Sembilang dan JICA-RECA mengidentifikasi 4 spesies baru mangrove sejati  (namun belum dipublikasikan), sehingga total keseluruhan mangrove sejati di TN Sembilang berjumlah 21 jenis, yaitu Avicennia marina, Avicennia alba, Avicennia ofificinalis, Aegiceras corniculatum, Aegiceras floridum, Bruguierra gymnorrhiza, Bruguierra parviflora, Bruguierra sexangula, Bruguierra cylindrica, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Excoecaria agallocha, Kandelia candel, Nypa fruticans, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Sonneratia Ovata, dan Xylocarpus granatum, xylocarpus molucensis.

Ekosistem rawa gambut di TN Sembilang berupa hutan rawa gambut sekunder, berada di wilayah SPTN Wilayah III Tanah Pilih yang terletak antara Sungai Ngirawan dan Sungai Benu Hulu yang merupakan perbatasan dengan areal IUPHHK-HT PT. Tripupajaya dan perbatasan dengan Propinsi Jambi. Luas hutan rawa gambut sekunder di kawasan TN Sembilang ± 20.000 ha (9,9% dari total luas kawasan TN Sembilang). Kedalaman gambut di hutan rawa gambut TN Sembilang berkisar antara 2-8 meter.

Keragaman jenis vegetasi yang ada di ekosistem rawa gambut TN Sembilang cukup tinggi. Dari hasil survey tahun 2014, tercatat 77 jenis vegetasi yang ditemukan dalam plot ukur (66 jenis diketahui nama latinya dan 11 jenis diantaranya hanya bisa di-identifikasi sampai nama famili /sukunya saja). Vegetasi di hutan rawa gambut TN Sembilang didominasi oleh jenis-jenis kayu komersil seperti Meranti, Merbau, Punak, Balam, Medang, Manggris, Jelutung rawa bahkan jenis Ramin yang dilindungi masih ditemukan di tipe hutan ini. Termasuk juga Oncosperma tigillarium (nibung), kantong semar (nepenthes sp), spesies palm dan anggrek lokal seperti: Cymbidium hartinahiahium and Dendrobium macrophylum.  

Ekosistem Rawa Gambut di TN sembilang