BTNBS Menyelenggarakan Pemberdayaan Masyarakat Kelompok Nelayan Zona Tradisional

0
69

Sumatera Selatan– Desember 2018, Dusun Sembilang merupakan perkampungan nelayan yang berada di Muara Sungai Sembilang. Dari sejarahnya masyarakat mulai datang dan menetap di Muara Sungai Sembilang sejak akhir tahun 1960-an kemudian berkembang pesat pada tahun 1970-an seiring datangnya masyarakat dari Sugsang, Palembang, Telang, Upang, Mariana, Pagar Bulan dan sekitarnya untuk melakukan penangkapan ikan dan udang di Sungai Sembilang serta tinggal menetap membuat bagan-bagan nelayan sehingga pada tahun 1982 warga setempat mengusulkan pembentukan Dusun Sembilang. Saat ini dusun Sembilang secara administrasi masuk dalam wilayah pemerintahan Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin.

Perkembangan kehidupan nelayan Dusun Sembilang ini belum disertai dengan dibentuknya wadah untuk melindungi kepentingan masyarakat setempat yang pada umumnya merupakan nelayan-nelayan tradisional yang mencari penghidupan di dalam kawasan. Kondisi tersebut menjadi perhatian Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang agar nelayan setempat mendapatkan akses atas pemanfaatan wilayah perairan di dalam kawasan pada lokasi yang telah ditetapkan dengan cara membentuk kelompok-kelompok nelayan melalui kemitraan konservasi sesuai dengan perdirjen KSDAE Nomor : P.6/KSDAE/SET/kum.1/6/2018 tentang petunjuk teknis kemitraan konservasi pada KPA dan KSA. Kelompok nelayan yang dibentuk di Dusun Sembilang berjumlah 7 kelompok dan pada saat ini sudah mendapatkan penetapan melalui SK dari Desa Sungsang IV.

Merujuk perdirjen tentang kemitraan konservasi diatas pada pasal 1 ayat 10, bahwa kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang secara turun-temurun mempunyai ketergantugan dengan sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan dapat diakomodasi pada zona tradisional. Oleh karena itu, saat ini zona pengelolaan kawasan Taman Nasional Sembilang telah dirancang dengan mengkompilasi seluruh data dan informasi terkait potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, permasalahan dan potensi konflik di dalam dan sekitar kawasan, serta memperhatikan hak-hak masyarakat setempat yang lahir karena kesejarahan dan kondisi aktualnya. Menurut Kepala SPTN Wilayah II Afan Absori ,”Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang sedang dalam proses revisi zona tradisional perairan menjadi seluas 52.767,48 ha untuk memberikan akses kepada masyarakat setempat yang secara turun temurun telah tinggal dan menetap serta mencari penghidupan dari hasil alam yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Sembilang”. “Sedangkan usulan lokasi kemitraan yang ditentukan untuk 7 kelompok nelayan dari Dusun Sembilang berada di wilayah perairan dengan status penetapan zona tradisional diantaranya; di muara Sembilang-Palu Sapi seluas 3.501,91 ha, di sepanjang pantai Alanggantang seluas 4.900,65 ha dan di Teluk Kelapo seluas 85,70 ha”, lanjutnya.

Dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakat nelayan, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang mengadakan kegiatan pelatihan pemberdayaan thd 4 Kel nelayan yg terdiri dari ; kelompok nelayan jaring ikan, kelompok nelayan udang petak, kelompok nelayan udang dan kelompok nelayan kerang. Jumlah peserta masing-masing kelompok sebanyak 15  orang sehingga total keseluruhan adalah 60 orang nelayan. Pelatihan berlangsung selama 3 hari dengan rincian kelompok nelayan kerang dan kelompok nelayan jaring ikan dilaksanakan pada tanggal 13-15 Desember 2018 dan kelompok nelayan udang petak dan kelompok nelayan udang dilaksanakan pada tanggal 17-19 Desember 2018.

Sebagai narasumber pada kegiatan tersebut selain petugas Taman Nasional Berbak dan Sembilang juga melibatkan dari Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Materi yg disampaikan antara lain tentang penerapan teknis peraturan perundangan bidang lingkungan hidup, kehutanan, perikanan dan kelautan. Untuk bidang perikanan kelautan materi yg diberikan terkait 10 alat tangkap yang ada di Indonesia diantaranya; pursen, pukat tarik, pukat hela, penggaruk, jaring angkat, alat yang dijatuhkan atau ditebarkan, jaring insang, perangkap, pancing dan penjepit), penjelasan mengenai alat yang ramah dan tidak ramah terhadap lingkungan serta kelengkapan surat yang harus dimiliki nelayan diantaranya; kartu nelayan dan asuransi, surat tanda pengenal kapal untuk kapal diatas 3 GT, Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) dan surat CV untuk kapal diatas 5 GT. Selain itu penjelasan mengenai 5 kelompok nelayan diantaranya; KUB (Kelompok Usaha Bersama), Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan), Poklahsar (Kelompok Pengolah dan Pemasaran), Kugar (Kelompok Usaha Garam) dan Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas). Untuk melengkapi bekal bagi nelayan diberikan juga praktek berupa pembuatan alat tangkap yang ramah terhadap lingkungan.

Sumber : Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here