SENSUS BURUNG MIGRAN DI LANGIT SEMBILANG

1
546

Migrasi akbar burung ini dimulai saat musim dingin tiba di belahan bumi utara. Padang rumput tertutup salju, sungai dan danau membeku, tidak ada makanan lagi buat mereka.
Koloni burung berbagai spesies ini secara serentak menghindari musim dingin yang beku. Mereka bergerak ke arah selatan, terbang berhari-hari, menyinggahi banyak tempat untuk beristirahat dan mencari makan termasuk singah di pesisir sembilang.

Saat migrasi, jumlah burung migran yang menghiasi langit sembilang akan begitu banyak. Pertanyaan muncul, bagaimanakah caranya mengamati dan menghitung jumlah burung pengembara tersebut?

Melalui Panduan Praktis Pemantauan Satwa Liar Terancam Punah Di Taman Nasional Berbak Sembilang yang di keluarkan TFCA-KIBASS/ Wetlands International Indonesia di dapatkan cara untuk mengetahui cara pemantaun burung migran di Taman Nasional Berbak Sembilang.

Prasetyo widodo kordinator lapagan KiBASS mengatakan ada dua alasan utama yang menjadikan pengamatan burung air suatu hal yang menarik dan penting yaitu Pertama, burung pantai merupakan kelompok burung migran yang berjumlah sangat besar, berbagai jenis berpindah dari bagian Artica (Sibiria) dan Asia Tengah ke daerah-daerah di selatan seperti Australasia, Africa dan Amerika Selatan.

Untuk alasan kedua adalah saat ini lahan basah di seluruh bagian bumi dalam kondisi yang terancam, dan burung pantai merupakan indikator yang baik untuk mengetahui kondisi lahan basah di suatu daerah. Dengan demikian, jika suatu spesies tertentu mengalami penurunan populasi, mungkin menunjukkan adanya suatu perubahan yang kritis terhadap kondisi lahan basah tersebut secara keseluruhan. Dalam mengamati burung kita juga harus di wajibkan menghitung jumlah burung migran yang kita amati, ada dua cara penghitungan yang dapat dilakukan yaitu sensus dan perkiraan. Sensus, dilakukan bila jumlah burung relatif sedikit (kurang dari 3000 ekor), burung tersebar di areal terbuka, dengan gangguan terbatas dan burung tidak banyak bergerak.

Sedangkan perkiraan, dilakukan bila, jumlah burung relatif besar, berkumpul sangat rapat dan tidak semua terlihat, pergerakan tinggi, banyak gangguan dan sulit mengidentifikasi karena keterbatasan cahaya.

Prasetyo menambahkan pencatat burung migrasi harus menyadari bahwa akan ada pengaruh cuaca, jumlah burung, dan kemampuan pengamat. Faktor lain yang mempengaruhi pengamatan adalah ketinggian burung terbang dan jumlah individu saat bermigrasi.

Agar dapat terpantau dengan baik, pengamat disarankan memantaunya saat masa migrasi, bukan puncak migrasi.

“Lokasi pengamatan juga harus diperhatikan, seperti lebih tinggi dari sekitar, tidak terlalu sempit, dan mudah dijangkau, serta titik poind burung mencari makan.”ungkapnya.
Kemapuan lain seorang pencatat dan pengamat burung adalah harus bisa mengidentifikasi jenis burung yang dilihat, apak jenis burung tersebut,Bila jumlah individu terlalu tinggi atau jauh, gunakan taksiran jumlah seperti kelompok kecil dengan ukuran yang diperkirakan bukan individu. Misalnya, dalam satu kelompok terdiri 5-10 individu, pengamat tinggal menghitung ada berapa kelompok.

Ferry Hasundungan penyusun ‘Panduan Praktis Pemantauan Satwa Liar Terancam Punah Di Taman Nasional Berbak Sembilang’ dalam laporan-nya, mengatakan ada beberapa catatan khusus yang perlu diperhatikan agar pengamatan burung migran air di pesisir Sembilang menjadi efektif.

Menurutnya bahwa Sungai Nibung adalah tempat terbaik untuk melakukan pemantauan. Kondisi geografis dan subtrat pantainya membuat burung bisanya selalu dijumpai di lokasi ini, walaupun lokasi ini belum tentu merupakan lokasi dengan jumlah terbesar di sepanjang pesisir Banyuasin.

“Informasi cuaca sangat perlu dalam mendapatkan hasil yang baik dalam pengamatan burung migran”

Kondisi terbaik untuk melakukan pengamatan burung air di sepanjang pesisir Banyuasin biasanya pada saat ketika surut dan kondisi air mulai pasang, dimana pada akhirnya akan banyak burung terkumpul pada suatu titik lokasi tertentu.

Ketika air benar-benar pasang dan tidak menemukan burung di sepanjang pesisir Banyuasin, maka sebaiknya melakukan pengamatan di sekitar lokasi tambak (bekas tambak) di Sungai Solok Buntu, dimana kemungkinan besar burung-burung air akan beristirahat dan mencari makan di sini.

Sehingga akan banyak waktu untuk mengenali jenis, mengambil foto burung dan sebagainya. Di sisi lain, pada saat pasang mulai datang, burung-burung biasanya akan semakin mendekat dengan sendirinya mendekat ke arah perahu kita, sehingga mudah untuk diamati.

Pengamatan Burung Migran Di Sembilang

Taman Nasional Sembilang merupakan lokasi dimana ditemukan burung pantai migrant yang paling banyak. Sedikitnya ada sekitar 25 hingga 27 jenis burung pantai migrant yang singgah di dataran lumpur di pesisir Propinsi Sumatera Selatan.

Dengan metode yang telah di aplikasikan dari ‘Panduan Praktis Pemantauan Satwa Liar Terancam Punah Di Taman Nasional Berbak Sembilang’. Maka, Pada akhir tahun lalu, Konsorsium Bentang Alam Sembilang Sumsel (KIBASS) didampingi pihak Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang Serta didukung oleh Tropical Forest Conservation Action (TFCA) melakukan pemantauan burung migran di sembilan (9) lokasi untuk mengetahui jumlah burung dari siberia itu. Jumlah total individu yang berhasil terdokumentasi adalah + 5.468 burung migran dan + 3703 burung lainnya.

Dalam kegiatan pemantauan kali ini tercatat, sekitar 14 jenis burung dengan total 5.468 individu yang sudah teridentifikasi. Sebut saja Burung laut ekor hitam (Limosa limosa), Gagang bayam timur (Himantopus leucocephalus), trinil kaki merah (Tringa totanus), hingga Gajahan (Numenius spp). Hasil pemantauan ini menunjukan bahwa Jenis yang paling dominan bertemu adalah Limosa limosa atau yang dikenal dengan Biru-laut ekor hitam yang banyak ditemukan di wilayah sungai siput lebih dari 2.500 individu. Untuk urutan kedua dari jenis yang berhasil teridentifikasi adalah Gagang bayam timur lebih dari 374 individu lebih yang hanya ditemukan dilokasi tambak di wilayah solok buntu. Sedangkan jenis ketiga yang ditemukan adalah jenis trinil kaki merah dengan jumlah pertemuan 350 ekor.

Bobberlian tim pemantauan burung migran dari KiBASS mengatakan selama kegiatan pemantauan burung migran, jenis burung trinil terutama trinil kaki merah banyak tersebar di sepanjang semanjung pesisir banyuasin. Sedangkan Trinil pantai yang beberapa ekor saja teramati dilokasi sungai barong kecil dan muara sungai sembilang. Trinil Lumpur asia dengan nama latin Limnodromus semipalmatus hanya ditemukan di muara dan pesisir sungai barong dan begitu juga dengan Trinil kaki-hijau ditemukan lebih kurang sekitar 30 ekor.

“Pertemuan jenis ganggang bayam timur pada pemantauan tahap awal ini di wilayah Sungai Barong kecil terutama wilayah tambak cukup banyak dibanding dengan hasil survey sebelumnya pada bulan Juli 2016, dimana pada tahun tersebut hanya ditemukan 176 individu sedangkan pada pemantauan kali ini berjumlah 374”,ungkap Bob
Ganggang bayam ini merupakan spesies burung dari family Recurvirostridae, dan jenis burung ini adalah pemakan invertebrata kecil serta biasanya berada di habitat rawa payau, rawa tawar, danau dangkal, tepi sungai, sawah, beting lumpur serta tambak garam. Berdasarkan hasil pengamatan Juli 2016 bahwa ada dua individu yang masih mengerami telur dibagian tengah yang tidak tergenang oleh di bekas tambak di Sungai Barong
Dari beberapa tempat yang di pantau, bahwa jumlah pertemuan yang paling tinggi berada di Sungai Siput dengan dominasi dari jenis Limosa limosa dengan jumlah 2.500 individu, yang diikuti jenis Limosa lapponica sebanyak 200 individu dan yang tidak teridentifikasi 500 individu.

“ Belum diketahui secara pasti keberadaan burung lebih banyak di temukan sungai siput akan tetapi hal ini bisa dikarenakan faktor makanan yang masih melimpah di areal sungai tersebut dan habitatnya tidak mendapat gangguan”,ujar Bob
Berdasarkan hasil pemantauan burung migran pada akhir tahun kemarin ditemukan sebanyak 5.468 individu dari 14 jenis dengan 3.728 individu yang telah teridentifikasi. Burung migran yang telah teridentifikasi yang tercatat dalam pemantauan seperti Burung laut ekor hitam merupakan jenis burung migran yang paling banyak jumlahnya dengan jumlah individu 2.583 Individu,

Sedangkan berikutnya adalah burung Trinil kaki Merah merupakan jenis burung mingran ke 3 yang jumlanya banyak ditemukan sebesar 330 Individu. Ganggang Bayam Timur (Himantopus leucocephalus) menempati jenis ke 2 yang jumlahnya banyak ditemukan sebesar 374 individu.

“Dari 9 lokasi pemantauan ini, lokasi yang paling banyak ditemukannya burung migran adalah Sungai Siput dengan 3.330 individu yang ditemukan, sedangkan lokasi berikutnya adalah Muara Sungai Barong dengan jumlah individu 1.342 indvidu”, Tutupnya.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here