PEMANTAUAN SATWA KUNCI BAGIAN DARI KONSERVASI TAMAN NASIONAL BERBAK SEMBILANG

0
246

Salah satu tindakan yang paling penting dalam pengelolaan konservasi kawasan Taman Nasional Sembilan (TNS),adalah dengan dengan melakukan survei atau kegiatan pemantauan beberapa kelompok satwa kunci TNS secara berkala, satwa kunci yang di maksud yaitu Burung Migran (migratory waterbird), Buaya Senyulong, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).

Dalam aktifitas kegiatan konservasi tersebut TFCA-KiBASS di TNS Seksi Sembilang, telah melakukan beberapa survei  untuk kelompok burung-air bermigrasi (migratory waterbird), dan Buaya Senyulong (Tomistoma schlegelii),  sedangkan untuk rencana kegiatan selanjutnya akan di lakukan survei atau pemantauan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) secara reguler.

Adiosyafri  sebagai Kordinator Program TFCA-KiBASS mengatakan survei atau pemantauan satwa kunci di TNBS Seksi Sembilang adalah bentuk kegiatan pengelolaan konservasi yang KiBASS lakukan. Dimana kita ketahui setiap tahun pada periode tertentu jutaan burung melakukan migrasi melalui jalur terbang Asia Timur – Australasia.

Kelompok burung-air migran menggunakan lahan basah yang dilaluinya (termasuk Indonesia) sebagai daerah singgah.

“Kelangsungan hidup jutaan makhluk bersayap ini tergantung pada kelestarian lahan basah di negara-negara yang dilaluinya, termasuk di Indonesia termasuk TNBS”, ungkap Adios

Dimana semenanjung Banyuasin yang merupakan bagian dari TNBS telah diketahui sebagai situs yang penting bagi burung-air migran secara internasional. Pada tahun 2012, Sembilang telah resmi diakui sebagai situs jaringan jalur terbang EAAF. Situs ke-2 di Indonesia, setelah Taman Nasional Wasur, Provinsi Papua.

Adios menambahkan pemantauan secara teratur terhadap keberadaaan burung-air di Semenanjung Banyuasin ini sangat penting dilakukan. Bila memungkikan, pemantauan dilakukan satu kali dalam satu bulan, dengan kondisi pasang-surut yang mendukung.

“Sehingga diharapkan didapatkan trend populasi burung-air yang menggunakan daerah Semenanjung  Banyuasin ini”, Ujarnya.

Prasetio Widodo kordinator Lapagan KiBASS mengatakan  untuk survei atau pemantauan buaya Senyulong yang mendiami perairan darat berupa sungai atau rawa-rawa berair tawar. Berbeda dengan Buaya Muara (Crocodylus porosus) yang lebih sering ditemukan pada bagian muara sungai yang berair payau atau asin.

Populasi Buaya senyulong yang tercatat, umumnya berada pada bagian sungai berair tawar di sekitar kawasan TNBS Seksi sembilang.

Sungai Merang di bagian barat laut TN Sembilang merupakan salah satu habitat potensial buaya senyulong. Selain itu, bagian hulu Sungai Benu memiliki tipikal habitat yang disukai spesies ini, sungai yang dinaungi tajuk-tajuk yang rapat dari hutan-rawa gambut.

Pras mengatakan, tekanan dan gangguan terhadap daerah tersebut terus terjadi. Pada bagian Sungai Merang, Bezuijen et al., 2002 mencatat bahwa telah terjadi penurunan drastis kerapatan populasi Buaya Senyulong di bagian hulu telah terjadi antara tahun 2001 dan 2002.

Penurunan ini diperkirakan berhubungan dengan aktifitas penebangan liar, masuknya penebang dalam jumlah besar, dan memulai penebangan liar di kawasan hutan di bagian hulu pada tahun 2001. Penangkapan Buaya Senyulong dari sungai dilakukan oleh penebang kayu dari luar daerah Sungai Merang, sedikitnya 18 individu tercatat ditangkap pada periode 2001-2002.

“untuk pemantau terakhir  pada tanggal 16 September 2017,di dapatkan  satu  individu buaya senyolong dengan panjang 1,5 – 2 meter oleh tim pemantau Buaya Sinyulong di parit/kanal GN.24 areal PT.TPJ sekitar 2 km dari batas kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang”, Ungkap Prasetio.

Mengenai pemantaun Harimau sumatera Panthera tigris sumatrae di kawasan TN Berbak Sembilang, khususnya SPTN II: Sungsang – Sembilang. Pemantauan atau monitoring harimau membutuhkan pemahaman konseptual dan keahlian lapangan.

Sebagai contoh apabila tim lapangan akan melakukan pemasangan kamera maka diperlukan kemampuan dalam identifikasi lokasi-lokasi pemasangan dengan baik teknik pemasangan dan pemahaman dasar dari metodologi

Tim lapangan tidak harus menguasai metode analisis secara penuh, namun dengan memahami konsep atau pemahaman dasar akan membantu dalam melakukan keputusan-keputusan pada saat di lapangan. Letak pemasangan yang tidak sesuai dengan sifat dan perilaku harimau akan memberikan data yang minim dan mengakibatkan analisis data yang tidak akurat.

Disamping keharusan bahwa tim lapangan memiliki kemampuan dalam mendeteksi keberadaan tanda harimau, berbagai asusmsi atau pertimbangan harus betul-betul ditegakkan untuk mendapatkan hasil yang baik. Untuk menegakkan asumsi-asumsi ini kadangkala membutuhkan sumberdaya yang tidak sedikit.

Pras mengatakan untuk saatwa kunci seperti gajah  perlu kita surve untuk mengatahui keberadaannya, menurut info masyrakat, populasi Gajah di ketahui terdapat di kawasan TN Sembilang pada bagian hutan yang mengarah ke hutan dataran rendah.

Pada bagian utara, populasi kecil yang pernah tercatat di bagian hulu Sungai Terusan Dalam pada tahun 2000 (Gönner & Hasudungan, 2001). untuk populasi Gajah Sumatera yang tersisa di sekitar kawasan TN Sembilang ada di area perkebunan sawit.

“Kemungkinan Gajah masih terdapat di perbatasan areal perkebunan PT. Raja Palma dan Karang Agung “, ujar prasetio

Untuk survei atau pemantaun Gajah yang akan di lakukan bulan ini sebaiknya diprioritaskan pada lokasi tersebut, untuk kemudian menentukan upaya konservasi serta mengurangi potensi konflik antara populasi Gajah Sumatera dengan manusia. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here